Jumat, 19 September 2014

Inovasi Pertanian: Gabungan Akuakultur dan Hidroponik

Tomat dan ikan sukses dibudidayakan di dalam lingkungan yang sama. Air kotor dari akuarium menyediakan nutrisi mineral yang penting bagi pertumbuhan tanaman.
Ratusan ikan tilapia berhabitat dalam puluhan akuarium di Institut Ekologi Air Tawar dan Perikanan Darat di Berlin. Deretan akuarium terletak di dalam rumah kaca yang juga menjadi tempat tumbuhnya tanaman tomat. Pendingin ruangan membuat suhu di dalam rumah kaca konstan pada angka 27 derajat Celsius - lingkungan yang kondusif bagi tomat dan tilapia. Tujuan dari proyek ini adalah untuk menumbuhkan sayuran dan mengembangbiakkan ikan pada kondisizero emission atau emisi nol.
Produksi pangan berteknologi tinggi
Tomat dan ikan dapat hidup dalam lingkungan artifisial yang menggunakan teknologi untuk memastikan hasil yang optimal.
Ikan dikembangbiakkan secara manusiawi, bela Werner Kloas yang membuat konsep proyek. Jumlah ikan di dalam akuarium disesuaikan dengan jumlah normal di habitat asli mereka.
Tomat juga tumbuh dalam lingkungan buatan. Mereka ditanam bukan dalam tanah, tapi dalam wol mineral. "Kultivasi tanaman tanpa tanah namanya hidroponik," jelas Hendrik Monsees, seorang ahli biologi di institusi tersebut.
Jenis kultivasi dan pertanian semacam ini bukan sesuatu yang baru. Sayuran tumbuh dalam rumah kaca di berbagai penjuru dunia. Dan beternak ikan dalam akuarium juga bukan sesuatu yang revolusioner. Tapi apa yang baru adalah air dari akuarium digunakan untuk menumbuhkan tomat. Akuakultur, yakni peternakan organisme akuatik, dan hidroponik - menumbuhkan tanaman menggunakan solusi nutrisi mineral dalam air, tanpa tanah - selama ini merupakan domain yang terpisah, ungkap Kloas.
Pada intinya, proyek ini menggabungkan akuakultur dan hidroponik.
"Saat tanaman butuh air dan nutrisi, akan didapatkan dari akuarium," kata Kloas.
Dua tahapan purifikasi air
Ikan mengeluarkan amonia, yang beracun bagi tilapia, sehingga airnya harus dirawat. Namun keuntungannya, air kotor dari akuarium justru menjadi pupuk ideal bagi tomat begitu kotoran ikan sudah difilter dan amonia dipisahkan secara kimiawi.
Di dalam rumah kaca, segala proses ini berlangsung otomatis. Air kotor dari akuarium masuk ke dalam pipa plastik berwarna putih. Pada tahap awal, kotoran ikan disaring keluar kemudian air dipurifikasi dalam sebuah biofilter.
Di dalam filter terdapat plastik-plastik kecil yang mengapung di atas air. Ukuran plastik hanya sebesar ujung jempol, namun permukaannya ampuh menyaring bakteri.
"Ini bakteri - Nitrosomonas dan Nitrobacter - yang lazim dijumpai di dalam air," pungkas Kloas. Proses nitrifikasi dilakukan oleh kedua kelompok bakteri tersebut. Nitritasi mengubah amonia menjadi nitrit. Dan nitratasi mengubah senyawa nitrit menjadi nitrat.
Dan nitrat merupakan komponen penting dan berharga bagi pupuk tanaman.
Air yang dirawat dalam akuarium dialirkan melalui pipa ke boks-boks tempat tanaman tomat tumbuh. Nitrat diekstrak dari air - sisa air terbuang melalui dedaunan sebagai uap air. Sejumlah perangkap dingin terpasang di langit-langit untuk memastikan kondensasi air kembali diarahkan ke akurium. Siklus ikan-tomat terpenuhi sudah.
Menghemat air
Tanaman tomat dalam rumah kaca tidak membutuhkan air tawar layaknya peternakan ikan dan penanaman sayuran konvensional.
"Dengan sebuah sistem siklus tertutup, kami hanya membutuhkan sekitar 10 persen air tawar per hari," tandas Werner Kloas. "Kami dapat menghemat begitu banyak air dan oleh karena itu tercipta sebuah sistem berkelanjutan."

sumber: DW

Tanam Bibit Padi di Styrofoam

Liputan6.com, Bantul: Biasanya, petani menyemai bibit padi di sebagian petak sawah. Namun, Tugiyo punya cara baru. Warga Desa Gulon, Kecamatan Pundong, Bantul, Yogyakarta, ini memanfaatkan kotak styrofoam yang didapat dari sejumlah perkantoran sebagai tempat menabur benih. Sebagai media tanam digunakan pasir, dicampur dengan limbah biogas kotoran sapi yang berfungsi sebagai pupuk. 

Hasilnya menakjubkan. Bila biasanya dibutuhkan waktu 21 hari bibit padi siap ditanam, dengan cara ini hanya dibutuhkan waktu tujuh hari saja. "Kita bisa lakukan sebagai pekerjaan rumah, anak-anak pun bisa," kata Tugiyo, Ahad (8/1). 

Menurut Sudardi, petugas Balai Penyuluhan Teknologi Pertanian atau BPTP Bantul, penggunaan styrofoam tidak akan membuat bibit tercemar bahan kimia. "Saya rasa tidak pencemaran karena hanya sebentar, selama persemaian saja," ucapnya. 

Keuntungan lain, bibit padi dalam styrofoam bisa langsung dibawa ke sawah sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya mencabut bibit padi sebelum ditanam. Dengan inovasi ini, dapat mengurangi biaya produksi

sumber: Liputan6

Bisnis Tanaman Hias Menjanjikan


Tanaman hias berpeluang besar menjadi komoditas yang menguntungkan. Permintaan pasar yang terus meningkat sebesar sepuluh persen tiap tahun membuat sektor florikultura sangat menjanjikan dari sisi bisnis. “Pedagang kecil seperti kami omzetnya bisa mencapai Rp 3-5 juta tiap bulan,” ujar Rizal, penjual tanaman hias di kawasan Senayan pada Kamis, 15 Mei 2014.

Perkembangan bisnis di sektor florikultura ini didorong oleh tingginya permintaan tanaman hias dari pengembang perumahan dan apartemen baru di kota-kota besar. “Pelanggan kami paling banyak dari pemilik rumah baru atau pengembang properti yang butuh mempercantik huniannya," kata Rizal. Tak mengherankan, kata dia, jika permintaan pasar terhadap tanaman hias meningkat sebesar 31,62 persen.

Tingginya permintaan terhadap tanaman hias ternyata juga diimbangi dengan meningkatnya produktivitas. Data Kementerian Pertanian menunjukkan total produksi tanaman hias mencapai 616 juta tangkai dengan laju pertumbuhan sebesar 26 persen tiap tahunnya.

“Dari sisi produktivitas, tanaman anggrek dan krisan merupakan yang tertinggi mencapai di atas 30 persen,” kata Farida Nuraini, Kepala Seksi Bimbingan Usaha Direktorat Budidaya dan Pascapanen Florikultura Kementerian Pertanian.

Akan tetapi, potensi bisnis ini bisa terlewatkan bila pemerintah tidak peduli terhadap merosotnya jumlah lahan panen untuk tanaman hias. “Luas panen untuk komoditas anggrek dan mawar yang merosot tajam mencapai minus sepuluh persen,” kata Farida. Hal ini amat riskan mengingat permintaan terhadap kedua tanaman hias tersebut tergolong tinggi. 

sumber: Tempo

Mulsa Organik Meningkatkan Hasil dan Mengatasi Kekeringan

Mulsa merupakan suatu material penutup tanaman budidaya untuk menjaga kelembaban tanah serta menekan pertumbuhan gulma dan penyakit sehingga membuat tanaman tersebut tumbuh dengan baik. Mulsa dapat digolongkan menjadi dua berdasarkan materialnya yaitu mulsa organik dan mulsa anorganik.
Mulsa organik berasal dari bahan-bahan alami yang mudah terurai seperti sisa-sisa tanaman seperti jerami dan alang-alang. Mulsa organik diberikan setelah tanaman atau bibit ditanam. Keuntungan mulsa ini adalah lebih ekonomis, mudah diperoleh, dan dapat terurai sehingga menambah kandungan bahan organik pada tanah.
Mulsa anorganik terbuat dari bahan-bahan sintetis yang sukar/tidak dapat terurai. Contoh mulsa anorganik adalah mulsa plastik, mulsa plastik hitam perak atau karung. Mulsa ini dipasang sebelum tanaman/bibit ditanam, lalu dilubangi sesuai dengan jarak tanam.
Pada lahan rawa pemanfaatan mulsa belum banyak dilakukan. Balai Penelitian Lahan Rawa (Balittra) mencoba melakukan penelitian terhadap pemanfaatan mulsa pada tanaman tomat.
Tomat dapat ditanam pada lahan rawa, baik pada sistem surjan maupun hamparan, tergantung pada tipe luapan. Menanam tomat dapat dilakukan pada musim hujan maupun musim kemarau. Penanaman pada musim kemarau sering mengalami kekeringan karena curah hujan yang rendah, akibatnya hasil tomat menjadi rendah.
Salah satu upaya mengatasi masalah kekeringan yaitu dengan penggunaan mulsa. Bahan yang bisa dijadikan mulsa antara lain mulsa plastik untuk yang anorganik, atau mulsa alang-alang, brangkasan palawija untuk organik.
Hasil penelitian di lahan rawa menunjukkan bahwa pemberian mulsa dapat meningkatkan hasil tomat. Hasil yang didapat dari ketiga bahan mulsa tersebut berbeda. Bahan mulsa terbaik adalah yang berasal dari brangkasan palawija dengan hasil mencapai 23,6  ton per hektar.
Mulsa dari alang alang memberikan hasil 19,0  ton per hektar, mulsa plastik 15,9  ton per hektar, sedangkan tanpa mulsa hanya menghasilkan 12,3 ton per hektar.
Pemberian mulsa brangkasan palawija memberi keuntungan karena melapuk secara perlahan sehingga menambah hara bagi tanaman.

Yovi Avianto 13228