Jumat, 19 September 2014

Mulsa Organik Meningkatkan Hasil dan Mengatasi Kekeringan

Mulsa merupakan suatu material penutup tanaman budidaya untuk menjaga kelembaban tanah serta menekan pertumbuhan gulma dan penyakit sehingga membuat tanaman tersebut tumbuh dengan baik. Mulsa dapat digolongkan menjadi dua berdasarkan materialnya yaitu mulsa organik dan mulsa anorganik.
Mulsa organik berasal dari bahan-bahan alami yang mudah terurai seperti sisa-sisa tanaman seperti jerami dan alang-alang. Mulsa organik diberikan setelah tanaman atau bibit ditanam. Keuntungan mulsa ini adalah lebih ekonomis, mudah diperoleh, dan dapat terurai sehingga menambah kandungan bahan organik pada tanah.
Mulsa anorganik terbuat dari bahan-bahan sintetis yang sukar/tidak dapat terurai. Contoh mulsa anorganik adalah mulsa plastik, mulsa plastik hitam perak atau karung. Mulsa ini dipasang sebelum tanaman/bibit ditanam, lalu dilubangi sesuai dengan jarak tanam.
Pada lahan rawa pemanfaatan mulsa belum banyak dilakukan. Balai Penelitian Lahan Rawa (Balittra) mencoba melakukan penelitian terhadap pemanfaatan mulsa pada tanaman tomat.
Tomat dapat ditanam pada lahan rawa, baik pada sistem surjan maupun hamparan, tergantung pada tipe luapan. Menanam tomat dapat dilakukan pada musim hujan maupun musim kemarau. Penanaman pada musim kemarau sering mengalami kekeringan karena curah hujan yang rendah, akibatnya hasil tomat menjadi rendah.
Salah satu upaya mengatasi masalah kekeringan yaitu dengan penggunaan mulsa. Bahan yang bisa dijadikan mulsa antara lain mulsa plastik untuk yang anorganik, atau mulsa alang-alang, brangkasan palawija untuk organik.
Hasil penelitian di lahan rawa menunjukkan bahwa pemberian mulsa dapat meningkatkan hasil tomat. Hasil yang didapat dari ketiga bahan mulsa tersebut berbeda. Bahan mulsa terbaik adalah yang berasal dari brangkasan palawija dengan hasil mencapai 23,6  ton per hektar.
Mulsa dari alang alang memberikan hasil 19,0  ton per hektar, mulsa plastik 15,9  ton per hektar, sedangkan tanpa mulsa hanya menghasilkan 12,3 ton per hektar.
Pemberian mulsa brangkasan palawija memberi keuntungan karena melapuk secara perlahan sehingga menambah hara bagi tanaman.

Yovi Avianto 13228

1 komentar:

  1. ANALISIS ARTIKEL CYBER EXTENSION

    Nama : Rizka Rohmawati
    NIM : 13380
    Golongan : A3.2
    Kelompok : 7

    a. Adakah nilai penyuluhan
    • Sumber teknologi / ide : ada. Ide yang mucul dari mulsa organic ini adalah adanya sisa – sisa jerami dan palawija lainnya, sehingga bisa di mnfaatkan sebagai mulsa.
    • Sasaran : berupa sasaran langsung yaitu petani.
    • Manfaat : Manfaat dari pemakaian mulsa organic ini adalah lebih ekonomis, mudah diperoleh, dan dapat terurai sehingga menambah kandungan bahan organik pada tanah. Dengan demikian hasil produksinya mencapai 23,6 ton per hektar.
    • Nilai Pendidikan : dengan ide ini, tidak memerlukan banyak biaya namun hasil yang di dapat akan maksimal, selain itu penggunaan mulsa organic tidak akan mencemari lingkungan karena limbah yang di dapatkan akan langsung terurai dengan tanah sehingga akan menambah kandungan unsure hara di dalam tanah.

    b. Sebutkan dan jelaskan nilai berita yang terkandung dalam artikel
    • Timelines : berita yang dipaparkan dalam artikel ini merupakan ide baru karena sebelumnya petani lebih sering menggunakan mulsa plastik daripada mulsa organic.
    • Proximity : artikel tersebut dekat dengan petani dari segi fisik.
    • Importance : ya tulisan tersebut mengandung informasi yang penting bagi petani yaitu mengenai masalah kekeringan dengan menggunakan mulsa.
    • Development : berita dalam artikel tersebut menyangkut keberhasilan petani dalam bidang produktivitas pertanian. Penggunaan mulsa organic lebih menguntungkan karena akan menghasilkan produksi yang lebih tinggi daripada mulsa plastik.

    BalasHapus